Hi….. Selamat datang di blog saya AwieSuwandi.com, jika anda adalah seorang yang senang belajar dan tertarik dengan hal hal yang berhubungan motivasi, menggali & mengembangkan potensi diri, selling dengan hypnosis & nlp, coaching, training dan workshop, maka blog ini cocok bagi anda karena dalam blog ini saya akan sharing tips tips yang mungkin saja bisa anda manfaatkan, baik dalam hidup sehari hari, dalam pekerjaan maupun dalam bisnis anda.

Pendekatan yang digunakan disini cenderung ke arah pendekatan secara holistik yaitu dengan mempertimbangkan juga aspek aspek “Mind, Body, Soul & Spirit” secara keseluruhan, dan pada beberapa bagian tertentu dari artikel saya akan menggunakan teknologi “Multiple Levels Of Communication” yang juga akan memfasilitasi proses pembelajaran pada level bawah sadar anda, sehingga hanya dengan membaca artikel di blog ini saja akan memunculkan perubahan positif secara otomatis dan tanpa anda sadari pada diri anda.

Jika anda merasa artikel di blog ini bisa bermanfaat bagi teman teman anda, silahkan referensikan kepada mereka, untuk itu anda hanya butuh klik icon bertulisan “Tell A Friend” yang ada di sudut kiri bawah dari setiap artikel.

Seandainya anda ingin bertanya & berdiskusi, silahkan posting komentar & pertanyaan di blog ini, anda juga bisa posting pertanyaan di forum Klinik Hipnotis, atau anda juga bisa menghubungi saya via email, messenger atau  nomer HP yang ada disini.

Sukses Tanpa Batas…!!!

Awie Suwandi's Facebook profile

Karena kesulitan melihat, akhirnya Budi memeriksakan matanya ke Sadly, seorang dokter mata yang kebetulan juga adalah teman baiknya.

Setelah diperiksa, rupanya Budi menderita rabun jauh, untuk mengatasi rabun jauh tersebut, maka Budi pun harus mengenakan kaca mata.

“Sebenarnya ini jarang sekali saya lakukan, tapi karena kita ini sudah lama bersahabat, dan melihat kamu ini sangat sibuk dan kamu juga sedang tergesa gesa, maka kamu pakai saja kacamata saya…” kata Sadly sambil melepaskan kacamata yang dipakainya sendiri.

Karena merasa tidak enak hati, maka Budipun menerima pemberian temannya, tapi begitu kacamata tersebut dikenakan, bukannya penglihatan Budi tambah jelas, malah bertambah buram.

“Ayo… berusahalah lebih keras lagi… jangan terlalu cepat menyerah… kacamata ini yang terbaik, saya sudah lama menggunakannya dan selama ini sangat bermanfaat…”

Karena masih merasa ga enak hati, maka Budipun berusaha lebih keras lagi, hasilnya… bukannya tambah jelas penglihatannya, malah kali ini Budi menjadi pusing dan akhirnya menyerah dan menolak dengan halus, “Sudahlah Sadly, biarlah saya cari dokter mata yang lain saja…”.

Seperginya Budi, dengan kesal Sadly berkatan kepada asistennya “Begitukah cara seorang teman berterimakasih terhadap kebaikan yang kita berikan…? Benar benar tidak tahu berterimakasih…”

Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga pernah seperti Sadly yang selalu memaksakan standar dan nilai nilai pribadi anda kepada orang lain… yang belum tentu cocok baginya… meski dengan alasan demi kebaikan?

Atau anda menghargai mereka sebagai individu yang berbeda dan unik?

Sukses Tanpa Batas…!!!

Awie Suwandi

Hypnosis Life Coach & Hypnotherapist

Table of contents for Erickson VS Elman

  1. Which Method is best?
  2. Deep Trance… atau Tidak…???

Apakah kita butuh trance yang dalam untuk memfasilitasi perubahan atau tidak… ??? Ini selalu menjadi perdebatan sengit antara kubu Elman dan kubu Ericksonian…

Menurut pendapat saya, baik Elman ataupun Ericksonian… keduanya hanyalah adalah sebuah model pendekatan…

Namanya jg model pendekatan… tentu tidak bisa mutlak 100 %, melainkan hanya mendekati saja…

Sama spt dalam matematik… kita menggunakan deretan fourier sebagai pendekatan untuk merumuskan sebuah gelombang tidak beraturan… sehingga dengan rumus (fungsi) ini gelombang tsb bisa dijelaskan dan diduplikasi… meski tidak 100% identik… tapi daripada tidak ada sama sekali… namanya jg pendekatan… ^_^

Utk menjelaskan prinsip kerja hipnotis, sering digunakan pendekatan dengan gelombang otak, selalu dikatakan wilayah kerja hipnotis itu di alfa dan theta… pertanyaannya… apakah seorang yg dalam kondisi terhipnotis selalu berada di alfa atau theta? Tidak selalu juga… ketika terjadi abreaksi… gelombang otaknya bukan di alfa atau theta… tapi biasanya malah di Gamma (diatas 40 Hz)… namanya jg sebuah model pendekatan… tidak bisa 100% benar… krn selalu saja ada pengecualian…

Masih ingat premis dari Alfred Korzybski??? The Map is not the territory… alias peta bukankah wilayah sesungguhnya… peta Jakarta bukanlah Jakarta… tp sebuh model pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan ttg kota Jakarta… seandainya peta  Jakarta kita perbesar hingga sebesar kota Jakarta… tetaplah tidak identik dan tidak bisa menjelaskan ttg Jakarta 100%…

Demikian pula hipotesa dan teori yg digunakan… masing masing hanya menjelaskan sebagian kecil dari sebuah proses yg kompleks… masing2 punya kelebihan… masing2 memiliki pula keterbatasan…

Kembali lagi ke perdebatan diatas, saya akan mengatakan kedua pihak tidak ada yg salah… hanya saja krn model pendekatan yg digunakan berbeda… tentu saja teori atau bahasanya jg berbeda…

Sama seperti ketika Suparman berbahasa Indonesia, tentu saja yg digunakan adalah tata bahasa Indonesia, dan ketika John berbicara bahasa Inggeris tentu saja menggunakan tata bahasa Inggeris…

Nah ketika masing2 kubu saling menyalahkan… itu sama seperti Suparman mengatakan John itu salah karena berbicara dalam “bahasa Inggeris” tapi tidak menggunakan “tata bahasa Indonesia yang benar”…

Atau sebaliknya John mengatakan Suparman itu salah krn tata bahasa Indonesia yg digunakan Suparman tidak sesuai dengan aturan “tata bahasa Inggeris” (^_^)…

Jadi kalo menurut saya… daripada capek mencari penjelasan kenapa sesuatu itu salah… lebih baik kita focus pada mana yg bermanfaat dan bisa membantu klien dalam menyelesaikan masalahnya… jika perlu gunakan segala cara sehingga bisa memberi hasil positif…  bukankah strategi ini lebih konstruktif daripada bertahan dalam posisi kaku dan ngotot dengan satu tata bahasa dari satu kubu saja?

Sukses Tanpa Batas…!!!

Awie Suwandi

Trainer, Hypnosis Coach & Hypnotherapist

Member & Master of Clinical Hypnotherapist from IACT.

Master NLP Practitioner from NLP Comprehensive.

Table of contents for Erickson VS Elman

  1. Which Method is best?
  2. Deep Trance… atau Tidak…???

By Gerald Kein

On many internet discussion boards the question of Elman vs. Erickson and Ericksonian based N.L.P. is very active, to say the least. There are Talibanistic fanatics on both sides with opinions fixed and rigid as stone. Let’s see if we can take an objective position on these issues.

I think it is critically important to keep in mind that the best intervention is the one that helps the client achieve his/her transformational goals in the shortest reasonable time. Excessive, unnecessary sessions used just to increase income or sessions that are too short to accomplish the client’s goal are un-ethical and un-professional. For example, I am aware of a few hypnotists who state up front a minimum requirement of fifteen sessions for minor issues. Others state they can do unrealistic medical transformations in only one fifteen minute session.

Looking back over hypnotism history, it seems that the really great hypnotists; such as, Mesmer, Bernheim, Erickson, Elman, Parkhill and Boyne have one common factor that connects them all. They simply took one school of thought pertaining to hypnotism that fit their personality the best and spent years, if not the rest of their lives, honing, molding and constantly tweaking those techniques until they actually became an unconscious extension of whom they were.

For example, Steve Parkhill, an internationally recognized expert on hypnotism for terminal illness, has devoted many years of his life using and enhancing pure hypnosis in his treatment of cancer. His success rate became so high, physicians allover the country sought him out to train them in his methods. A few years ago, he decided to study Ericksonian methods in order to get even better in his work. To his astonishment, he discovered that when he added NLP and Erickson style metaphor approaches he decreased his success rate by 80%. He immediately stopped using the Ericksonian methods and his success rate quickly recovered. Steve did not blame his success drop on Erickson and NLP but on his truly not knowing enough about the subject and how to blend it into his established, successful therapy methods.

We think of a chain saw as a crude, dangerous, powerful tool used for the destruction of large trees. On the other hand, there are artisans so skilled in the use of this tool; they can use it to carve delicate art objects that can sell for large amounts of money.

In another area, which technique utilized can become a very practical financial matter. Generally speaking, Ericksonian, NLP techniques are very slow metaphoric story telling approaches to the work. Most Ericksonian techniques are maternal in nature. It seems when using these methods, five to ten or more sessions is not uncommon. Many of these sessions may require that the practitioner devote two or more hours per visit. This type of lengthy session approach can drastically limit how many clients can be seen on a daily basis. Let’s face it; we all have to make a living. If we can only do four sessions a day, we are either going to have to work very long hours or not make enough money to have hypnotism as a viable career.

Let’s keep in mind that Erickson was a medical doctor. Because he could take insurance, multiple sessions were no problem. For people who must pay cash, this can be a real problem. Erickson had another talent. He was a born talker/storyteller. This is a rare skill indeed. It is not easily taught or absorbed by the average student.

With that being said, many practitioners have stayed so focused, studied so long and deeply on Erickson/NLP methods that their client outcome is wonderful. Again, as with any other viable tool, for the practitioners who can embrace, hone, advance and tweak these techniques, successful outcome for many people can be consistently excellent. However, they must learn how to eliminate the financially limiting issue of long multiple sessions.

Now, let’s take a look at Elman. He was not a doctor of any kind. He started in the work as a child. He Grew into an excellent stage hypnotist. He developed his clinical skills through doctors requesting him either to teach them or see their patients for clinical reasons. His students were mostly medical doctors. Early in his teaching, he discovered for a physician to use hypnosis as a practical adjunct to their practice, the process could not take any more time than the physician would normally spend with a patient for any other reason. He developed the approaches and techniques that would make this a reality.

Elman did not have great story telling skills. He was a questioner. He felt that the patient’s subconscious mind not only knew what caused the persons problem, but also how to fix it. In general, his methods relied on rapid, to no apparent visible inductions, regression to cause, abreaction control and management, if necessary occasional forgiveness therapy and finished up with transformational direct suggestions. His sessions would last anywhere from fifteen minutes to an hour. His average session would last about half an hour.

His success rate was amazing. During his training classes, he had doctors bring their patients in with various physical and mental challenges. He brought the patients up on the platform with him and demonstrated his transformational methods. The doctors could see the outcome happen right before their eyes. Elman believed that he had to find duplacatable step by step methods, that with minimum training, any doctor could follow in their practices and achieve similar outcome. No storytelling or metaphors were necessary or required. A large part of why Elman was so unbelievably successful was due to several factors today’s hypnotism practitioner may or may not have at his/her disposal.

First, Elman only worked in a classroom full of physicians or in their offices. The aura of him working in these environments gave him great professional stature and enhanced the patient’s imagination and created strong mental expectancy in regard to a successful outcome. After all, he taught the physicians. In the patient’s mind, who could do that unless they were the best of the best?

Secondly, because of Elman’s philosophy of the patient’s mind knowing all of his problems and how to fix them, he was able to develop short term methods that allowed the patient’s mind to do exactly that. Unlike Erickson, Elman felt somnambulism was required for any real work to be done quickly.

He believed the only use for light or medium hypnosis was that everyone had to go through them to reach somnambulism. He called somnambulism the working level of trance. He then developed an induction that would take anyone (without fear) into this level in four minutes or less, usually much less.

Thirdly, he was a very confident man in his techniques and approach to the client. He told every client at the very beginning of the session, “If you work with me and do exactly what I say, I know I can help you. If you don’t or resist me, there is nothing I can do for you.” If the client did the latter, the session was terminated and the client had to wait at least three months for another appointment. Because his reputation in this area became so widely known, he had little problems with resistance of any kind.

Although Elman was a very soft spoken, caring and maternal man, in many ways his methods could be considered of an aggressive nature. In truth, this simply depends on the personality of the hypnotist. Elman honed his regression to cause and transformational techniques over his lifetime in order to obtain maximum change in the briefest amount of time. Hypnotists who have become very skilled in these easily learned methods can comfortably see 10-12 clients a day. Obviously, the more people you can see in a day the greater your income.

Again, the hypnotist’s personality and training are the primary factors in determining the general direction of hypnotic approaches they adopt. Unfortunately, many schools focus on what you can’t do instead of what you could do. This causes the new hypnotist to be very shy and slow in their approach or for the schools that teach the “can do–go for it” methods, they are possibly too aggressive and excited about their techniques and newcareer.

Today, because of Erickson’s massive marketing by the medical and non-licensed Ericksonian hypnotists, he has grown into a Hypno-God. In reality, by today’s standards of knowledge, Erickson and Elman were both pretty good in their era. Today, all hypnotists should use a portion of every session to discover new methods that could add to our knowledge. I have said it many times. I believe if all the past great hypnotists could suddenly appear before us they would say the same thing. “Use what I have learned with my blessing. But if all you use are those methods, you are not adding to professional knowledge or growth. You have decided to stop learning.”

Many hypnotists practicing today are better than Elman or Erickson was in their best days. Their techniques are faster, maternal or paternal, as needed. Their transformations are more rapid and complete than ever before. The Erickson vs. Elman argument is a warn out discussion of past history. Their contributions to the work are well known and documented. They are the promoted ones.

Perhaps in the future we should investigate some other really great, but relatively unknown, un-promoted and un-marketed hypnotists of the Elman/Erickson era. Their different approaches may be beneficial to practitioners today. Hypnotists; such as, Martin Segall, Sol Lewis, Vic Karnella, Frank Monaghan and many others in that special time of great growth and discovery in the hypnotism field.

The simple fact is that Elman and Erickson developed some wonderful tools for our profession. How well you use any tool is simply based on how often you use it in order to get the maximum benefit. I feel there is a need for a word of caution here. Some people feel they still don’t know enough to work with “real” clients after they take their first basic through advanced hypnotism class. They decide to continue their training without ever using the skills they have learned. They jump from a pure hypnosis class to classes on NLP, Ericksonian Hypnosis, Elman Hypnotherapy, Alchemical, Conflict Therapy, Boynology, Mottinology, Keinology, Metaphysical Hypnosis and etc. When the day comes that they actually start to work with their first client, they are totally confused and completely lost on how to proceed. In my opinion, no one should take any additional training unless they have worked for at least six months with the skills they first learned. Then they can keep what works for them and their personality; discarding whatever they are uncomfortable with using. This too is a learning process and I feel an important one. Many newer methods of doing the work challenge the knowledge of the old masters and the core curriculums of many trainers. We need to stop calling ourselves Ericksonian or Elminian hypnotists. Giving ourselves these titles indicates we have stopped learning and shut our minds to other avenues of knowledge. Let’s get ourselves moving into the future and out of the dusty past with a new vigor and excitement focused on new deep investigation and experimentation. New and better transformational interventions are just in front of us. If all we do is keep looking backward, we will never discover them.

I truly believe we have just scratched the surface knowledge of the power of hypnotism. I know that in the relatively near future, hypnotism will become the primary intervention for many mental and physical problems. The conscious talk therapy of today will be understood for what it is….slow and generally ineffective. Unfortunately, this will not happen if we continue to raise the hypnotists of the 4O”s and 50’s to a God like status and allowing ourselves to become smothered in their decades old methodology. Remember, the past is the past and there is no future in the past. Elman and Erickson made great contributions to the work….Which one of you will pick up the banner, discover the truly new techniques and become our next hypnosis legend?

Setelah puluhan tahun lamanya pak Bodo bekerja sebagai seorang manager proyek pada sebuah perusahaan kontraktor bangunan, tibalah saatnya untuk pensiun dan beristirahat menikmati hari tua.

Tapi beberapa bulan sebelum masa pensiun tiba, pak Bodo diberi tugas lagi untuk untuk membangun sebuah rumah yang terakhir, dan karena sudah dalam suasana pensiun, maka tugas tersebut diterima pak Bodo dengan ogah2an.

Karena proyek tersebut ditangani dengan setengah hati, maka rumah tersebut dibangun dengan asal asalan… jauh berbeda dengan hasil kerja pak Bodo sebelumnya yang rapi dan berkualitas tinggi…

Kualitas material yang digunakan juga asal asalan, dan banyak sekali standar kualitas bangunan yang seharusnya dijaga itu tidak diperhatikan lagi oleh pak Bodo, sehingga rumah yang dibangun akhirnya selesai dibangun dengan kualitas yang amburadul… “Biarin saja… toh bentar lagi saya akan pensiun…” begitulah pembenaran pak Bodo dalam hati, “dan juga ga ada yang tahu kok…”.

Sehari sebelum pensiun, kantor tempat pak Bodo mengadakan pesta perpisahan, pesta diadakan cukup meriah dan di akhir pesta pak Bodo diminta untuk memberikan pidato perpisahan, kemudian sang pimpinan perusahaan maju kedepan untuk mengucapkan selamat tinggal sambil memberikan sebuah hadiah kenangan kenangan berupa sebuah kotak biru.

Dengan senang hati pak Bodo membuka kotak biru tersebut dan alangkah kagetnya ketika pak Bodo menemukan sebuah kunci dan sebuah sertifikat dari…

“Rumah yang tadi dibangunnya dengan asal asalan”.

Rupanya untuk menghargai jasa pak Bodo, pihak perusahaan memutuskan untuk memberikan hadiah kejutan… yaitu berupa rumah terakhir yang dibangunnya…

“Benar benar sial… seandainya saya tahu… maka saya akan membangunnya dengan kualitas yang terbaik…” sesal pak Bodo, tapi semua sudah terlambat… karena rumah yang akan dihadiahkan sudah terlanjur dibangun… dengan kualtias yang amburadul…!!!

Kerugian tersebut bisa dihindari kalau pak Bodo mempertahankan sikap mental untuk tetap komit dan selalu memberikan yang terbaik dari dirinya… kapan saja… dimana saja… dan dalam kondisi apa saja…

Karena… apapun yang kita lakukan… hasilnya bukan untuk orang lain… bukan untuk atasan kita… bukan untuk perusahaan tempat kita bekerja… tetapi semuanya untuk diri kita sendiri… karena hasil kerja kita itu identik dengan diri kita sendiri…

“Orang menilai kita bukan dari penampilan saja… akan tetapi juga dari hasil kerja kita… ”

Bagaimana dengan anda? Apakah di dalam diri anda juga ada sifat seperti pak Bodo…???

Sukses Tanpa Batas…!!!
Awie Suwandi
Hypnosis Coach & Hypnotherapist.

Lebaran sudah hampir tiba, banyak sekali penghuni kota besar yang menggunakan kesempatan liburan panjang ini untuk mudik dan bersilaturahmi dengan sanak keluarganya yang tinggal diluar kota.

Dan juga seperti biasanya, suasana ramai dan hiruk pikuk ini sering digunakan oknum oknum tertentu untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak terpuji, dari copet hingga sampai penipuan yang menggunakan “Metoda Mirip Hipnotis”.

Kenapa saya mengatakan “Metoda Mirip Hipnotis”?. Karena umumnya oknum pelaku itu memang tidak pernah belajar hipnotis, metoda yang mereka gunakan itu terkadang mereka pelajari dari teman2 atau menemukannya secara kebetulan saja.

Apakah dengan demikian berarti metoda “Mirip Hipnotis” itu bisa ditemukan secara kebetulan?

Bisa… penjelasannya sederhana saja, Ilmu Hipnotis itu bukanlah ilmu roket yang canggih atau ilmu yang aneh2, dan juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan mistik atau klenik…!!!

Tapi Hipnotis adalah sebuah ilmu pengetahuan yang dikembangkan secara ilmiah sebagai hasil dari pengamatan terhadap fenomena alamiah yang sudah kita alami sehari hari, sama seperti ilmu meteorologi, ilmu fisika, ilmu kimia dan lain lain yang juga dikembangkan dari hasil pengamatan terhadap kejadian sehari hari, yang supaya bisa dimengerti cara kerjanya, dibuatkan teori yang menjelaskan proses kerjanya sehingga pengetahuan tersebut bisa dimanfaatkan secara sistematis dan terkonsep, dan dengan demikian, bisa memberikan hasil yang lebih efektif dan tidak hanya mengandalkan pada kebetulan saja.

Jadi… karena Hipnotis juga adalah fenomena yg sdh kita alami sehari hari… maka wajar saja jika ada beberapa orang yang jeli memperhatikan lingkungannya dan menemukan teknik tersebut secara kebetulan… bukankah hampir semua ilmu pengetahuan itu juga awalnya dikembangkan melalui proses pengamatan seperti ini?

Itulah sebabnya, kenapa saya cenderung menyebutnya penipuan dengan metoda “Mirip Hipnotis”, karena bahkan oknum yang menggunakannya sering sekali tidak mengerti tentang teori hipnotis yang sebenarnya.

Karena metoda yang digunakan itu “Mirip Hipnotis”, tentu saja aksi kriminal tersebut bisa dicegah secara efektif dengan menggunakan Ilmu Hipnotis yang sebenarnya , yaitu dengan cara memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara kerja Hipnotis dan pemberian sugesti dalam bentuk “Pengunci”.

“Pengunci” adalah sugesti yang tujuannya adalah untuk mengkondisikan bawah sadar penerima sugesti untuk menolak segala macam sugesti yang tidak diinginkan dan yang tidak diizinkan, sehingga dengan demikian akan memberikan proteksi yang efektif kepada yang bersangkutan.

Berbekal dengan pengetahuan tentang cara kerja Hipnotis dan “Pengunci”, maka diharapkan rekan rekan pemudik bisa melindungi dirinya dari aksi kriminal yang semakin banyak memakan korban akhir akhir ini.

Tips menangkal Kejahatan dengan Metoda Mirip Hipnotis
1. Tingkatkan kewaspadaan anda ketika berbicara dengan orang asing yang baru dikenal di jalan.

2. Biasakan diri berpikir kritis , bertanyanlah terus kepada diri sendiri dengan pertanyaan apa, kenapa, siapa, bagaimana, bagaimana kalau tidak, kapan dll, terutama ketika anda diiming2 bakal mendapat untung besar seperti barang mahal yang mau dilego murah, menang undian berhadiah dll.

3. Ketika berbicara dengan orang asing, tanggapi dengan setengah serius (setengah hati) sambil memikirkan hal lain, krn salah satu cara kerja “metoda mirip hipnotis” itu adalah memfokuskan perhatian korban pada sesuatu, bisa berupa mata uang, perhiasan, alamat, peta, sesuatu yang mau dijual murah, ataupun cerita cerita menarik dan kadang berbau mistik.

4. Jika sudah merasakan ada hal hal yang mencurigakan, segera tinggalkan orang asing yang berbicara dengan anda.

5. Aktifkan sugesti “Pengunci” selama dalam perjalanan.

6. Berdoalah sebelum anda melakukan perjalanan, mintalah kepada Tuhan untuk melindungi anda selama di perjalanan.

Cara menanamkan “Pengunci”:
1. Bacakan sugesti “Pengunci” itu berulang ulang 10 kali malam hari sebelum tidur, dan 10 kali ketika baru bangun pagi.

2. Sugesti Pengunci yang akan dibacakan:
“Mulai saat ini saya bisa memberikan 2 perintah kepada bawah sadar saya…
Perintah pertama adalah ‘dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa… saya mau dihipnotis…’ dan dengan demikian saya menjadi semakin mudah dihipnotis sehingga bisa mendapatkan semua manfaat dari Hypnotherapy… jadi dalam kondisi ini saya masih bisa dihipnotis sampai saya menguncinya dengan sugesti ‘Dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa… saya tidak mau dihipnotis…’ dan dengan demikian bawah sadar saya akan mengabaikan segala sugesti yang diberikan kepada saya, baik sugesti yang diberikan secara langsung maupun sugesti yang diberikan secara tidak langsung melalui hipnotis percakapan… dan dengan demikian saya sudah tidak bisa dihipnotis lagi… kemudian segala sugesti yang sudah terlanjur tertanam di bawah sadar saya… dan yang tidak saya izinkan… dan yang tidak saya inginkan… akan langsung dinetralkan oleh bawah sadar saya… sehingga yang tersisa hanya sugesti yang saya izinkan… dan sugesti yang saya inginkan… jadi dalam kondisi ini saya sudah tidak bisa dihipnotis lagi sampai saya membukanya kembali dengan sugesti dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa… saya ingin dihipnotis kembali…

3. Lakukan setiap hari minimal 2 minggu lamanya, sesudahnya sugesti “Pengunci” itu akan menjadi permanen, dan bisa anda gunakan setiap saat ketika dibutuhkan.

4. Cara menggunakannya, sebelum anda keluar dari rumah, aktifkan “Pengunci” dengan berdoa dalam hati “Dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa… saya tidak mau dihipnotis…”

5. Sesampainya dirumah anda bisa membuka “Pengunci” dengan berdoa dalam hati
“Dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa… saya mau dihipnotis kembali…”

6. “Pengunci” itu harus bisa dibuka dan harus bisa ditutup sesuai dengan kebutuhan, karena mgkn saja suatu saat anda akan membutuhkan bantuan seorang hipnoterapis, jadi anda harus bisa membukanya kembali supaya anda bisa diterapi.

Silahkan anda foward artikel ini ke saudara dan teman anda karena dengan demikian anda juga secara tidak langsung ikut memerangi aksi kriminalitas sejenis ini yang semakin banyak memakan korban.

Contoh kasus:

Video diatas ini adalah cuplikan dari kasus yang terjadi di daerah Muara Karang Jakarta Pusat, dan merupakan kombinasi antara metoda pengalih perhatian, membuat bingung, menggunakan rasa sungkan korban dan ilmu copet karena korban dibuat bingung, duitnya diambil, dipindah tangan, dan dimasukkan ke kantong sebelah kiri… sambil memfokuskan perhatian korban pada kembalian duit… sementara yg wanita menghadang para pegawai yang mendekat…

Semoga bermanfaat…
Dan selamat Hari Raya Idulfitri…

Sukses Tanpa Batas…!!!
Awie Suwandi
www.AwieSuwandi.com

Table of contents for Prospecting

  1. 3 Tipe Prospek yang bisa dikenali dalam Prospecting

Dalam prospecting, ada tiga tipe prospek yang bisa kita kenali sesuai dengan kebutuhannya, dan masing masing tipe membutuhkan pendekatan yang berbeda beda.
1. Prospek yang sadar atas masalahnya dan tahu solusi yang dibutuhkan.
Biasanya tipe prospek ini akan langsung bertanya kepada Salesperson “Saya butuh X… apakah anda memilikinya?”.

Jika seorang salesperson memiliki solusi yang dibutuhkan, maka proses selling menjadi relatif lebih mudah dan waktu yang dibutuhkan untuk closing menjadi minimal.

Masalah akan muncul jika salesperson tidak memiliki apa yang sedang dicari oleh prospek, dalam hal ini maka salesperson harus bisa mencarikan alternatif yang dimiliki dan harus bisa menyakinkan prospek bahwa alternatif yang ditawarkan ini minimal sama bagusnya atau bahkan lebih bagus daripada yang dicari prospek.

2. Prospek yang sadar atas masalah dan sedang mencari solusi yang tepat.

Tipe prospek ini sudah tahu masalah yang dihadapinya, tapi masih belum memiliki solusinya. Dalam hal ini seorang salesperson akan memberikan solusi yang cocok untuk permasalahan tersebut berupa produk atau jasa yang ditawarkan.

Terkadang prospek sudah tahu tentang masalah yang dihadapinya, tapi masih merasa tidak perlu mengambil tindakan. Sebagai seorang Salesperson, kita harus tahu bagaimana caranya memperbesar rasa sakit yang timbul dari masalah tersebut sehingga memunculkan kebutuhan dalam diri prospek untuk segera mencari solusinya. Begitu muncul kebutuhan untuk ‘take action’ barulah salesperson menawarkan solusinya.

3. Prospek yang masih belum sadar atas masalahnya.
Terkadang prospek sama sekali tidak sadar bahwa mereka memiliki masalah yang harus diatasi. Sebagai seorang Salesperson, kita harus bisa mengenali dan menyakinkan prospek atas potensi masalah tersebut , disamping itu sales person juga bisa memotivasi prospek untuk mengambil tindakan yang mengarah pada penjualan.

Dua Strategi Selling
Poin-poin di atas mengarah ke dua jenis stategi penjualan:
• Selling dengan memecahkan sebuah masalah.
Fokus dari pendekatan ini adalah selling menawarkan solusi atas masalah yang sudah disadari oleh prospek berupa produk yang ditawarkan oleh salesperson.

• Selling dengan mengidentifikasi atau menciptakan sebuah masalah.
Fokus dari strategi ini adalah meyakinkan prospek bahwa mereka memiliki masalah ini, kemudian memotivasi prospek untuk mencari solusinya yang berupa produk yang akan ditawarkan oleh salesperson. Dan ini membutuhkan keterampilan berkomunikasi dan persuasi yang efektif dari salesperson.

Semoga bermanfaat.

Sukses Tanpa Batas…!

Dipl. -Betr. Psych. Awie Suwandi MCH
Trainer & Hypnosis Life Coach

Table of contents for "Sukses Belajar Hipnotis"

  1. Tips Belajar Hypnosis Dengan Sukses & Cepat.
  2. Mengapa saya menganjurkan permainan sebagai strategi belajar hipnotis yang cepat…

Selama ini byk pro dan kontra seputar ’stage hypnosis’… ada sebagian hypnotist yang memang menjadikan stage hypnosis sbg profesi… ada lagi kubu lain yang tidak setuju dengan hiburan yang menggunakan hypnosis… menurut kubu ini stage hypnosis itu hanya memunculkan persepsi negatif orang2 ttg hypnosis dan tidak ada manfaatnya sama sekali…

Saya pernah membaca ulasan seorang hypnotherapist yang ‘alergi’ dengan stage hypnosis, menurutnya menggunakan hypnosis utk permainan adalah sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab…

Dalam hal ini saya tidak sependapat… justru saya menggunakan permainan sebagai sarana belajar yang cepat bagi pemula… dan konsep inilah yang saya terapkan dalam workshop Turbo Hipnotis…

Alasannya:
1. Ketika kita ‘having fun’ dalam belajar… pada saat itulah kita belajar paling cepat… bukankah konsep mengajarkan sesuatu dengan permainan adalah suatu hal yang sudah biasa dalam workshop2 dan dalam kegiatan ‘outbound’?
2. Permainan itu tidak formal, sehingga para praktisi bisa lebih santai, rileks dan otomatis menjadi lebih percaya diri ketika melakukan praktek…
3. Misalkan ada 2 murid A & B yg baru saja belajar hypnosis…
besoknya si A langsung memberikan terapi kepada seseorang yang memiliki masalah emosional, misalnya trauma masa kecil yg berat…
Sedangkan si B belajar memantapkan dan mengasah keterampilan menghipnotisnya dengan melakukan permainan dulu pada orang biasa yang sehat secara emosional…
nah dari 2 contoh diatas siapa yang lebih bertanggung jawab dan siapa yang lebih tidak bertanggung jawab?

Oleh karena itu… tips saya untuk sukses belajar hipnotis… ketika anda baru belajar… mulailah dengan permainan dulu… gunakanlah permainan pada orang yang sehat untuk berlatih tekniknya dan mengumpulkan jam terbang… seandainya anda melakukan kesalahan… paling2 permainan yang anda lakukan itu gagal… jadi dampak negatifnya minimal… sesudah anda sudah mahir dan berpengalaman dengan rutinitas menghipnotisnya… barulah anda belajar menangani kasus kasus terapi… menurut saya itu lebih aman… dan lebih betanggung jawab…

Dan itulah sebabnya kenapa saya menekankan pada permaianan dalam workshop Turbo Hipnotis untuk membangun keterampilan dasar menghipnotis yang mantap… yang nantinya bisa dikembangkan lebih lanjut dengan mudah dan cepat sesuai dengan minat masing2… apakah itu untuk terapi… utk hiburan… utk pendidikan… olahraga… untuk Selling (HypnoPersuasion) dan lain lain…

Dan bagi praktisi yang tertarik untuk menerapkannya dalam penyembuhan & terapi… sesudah para peserta mahir menghipnotis barulah saya mengajarkan strategi terapi dalam workshop lanjutan yaitu workshop Hypnotherapy yang hanya berdurasi 2 hari itu…

Untuk belajar dari permainan, ada 4 point yg sebaiknya anda perhatikan:
1. Tidak melakukan permainan yang berbahaya…. seperti disuruh minum abis teh yang panas …
2. Tidak melakukan permainan yang melecehkan…. seperti disuruh lompat2 kayak kodok… msh byk bentuk permainan yang efektif untuk pembelajaran dan yang tidak membuat suyet menjadi bahan tertawaan orang banyak… atau anda juga bisa hindari permaianan didepan publik… jadi lakukan permainan hanya one by one…
3. Tidak melakukan permainan yang melibatkan emosi tinggi… krn bisa memicu fobia… seperti disugesti berada diatap gedung pencakar langit dan hampir jatuh…
4. Sesudah permainan, berilah kompensasi dengan menanamkan sugesti yang diinginkan suyet, misalnya spy ingatan menjadi lebih kuat, lebih pede dll…

Semoga bermanfaat…

Sukses Tanpa Batas…!!!
- Awie Suwandi -
www.AwieSuwandi.com

Ketika saya diundang dalam talkshow “Chat Club” di Metro TV kamis yang lalu, kembali pertanyaan ini diajukan oleh mas Choky, host dalam acara tersebut, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih bingung dan tidak mengerti ketika mendengar kata ‘hypnosis’…

Menanggapi pertanyaan mas Choky, saya menjawab bahwa “hypnosis” dan “hipnotis” itu sebenarnya menjelaskan hal yang sama… bhw hypnosis itu adalah sebuah kata yang langsung diambil dari bahasa Inggeris dan hipnotis adalah kata yang sudah biasa digunakan dan dimengerti oleh orang awam di Indonesia…

Ada beberapa rekan yang selalu berusaha membedakan kedua kata tersebut dan lebih suka menggunakan kata hypnosis, karena menurutnya… kata hipnotis itu salah… karena kalau dalam bahasa Inggeris hal itu berarti orang yang melakukan hypnosis, yaitu hypnotist… sehingga mereka berusaha menghindari menggunakan kata hipnotis…

Tapi dari pengalaman saya selama ini… justru ketika kita menggunakan kata hypnosis pada orang awam… mereka malah bertambah bingung… dan bertanya tanya hypnosis itu apa sih?

Menurut pendapat saya, menggunakan kata hipnotis itu oke oke saja, toh yang penting dalam sebuah komunikasi adalah apakah maksud dari komunikasi kita itu tercapai atau tidak… bukan apakah kata kata yang digunakan benar atau tidak…

Lagipula… kata hipnotis itu belum tentu salah, karena bisa saja kata hipnotis itu merupakan penyederhanaan dari kata ‘hipnotisme’… sama seperti kata ‘kapitalisme’ yang disederhanakan menjadi ‘kapitalis’…atau bukan…???

Sukses Tanpa Batas…!!!
Awie S.

Inspirational Quotes
Loading Quotes...
Video Workshop
Conversational Hypnosis
Hypnotherapy & Coaching

Clinic Erpour

Lt. Dasar Apt. Mitra Oasis
Jl. Kalilio 335-337.
Senen - JakPus

Setiap Hari Kamis
Diatas jam 19:30

Hanya dengan perjanjian

Pendaftaran:
021 32 777 766
021 93 979 766
0853 10 777 766
Kontak Awie
021 32 777 766
0853 10 777 766
0878 83 777 766
0857 80 777 766
Email: Awie@TranzWorks.net
Facebook: Awie Suwandi
Twitter: Awie Suwandi
Facebook

10412