Blog

Archive for the ‘Turbo Hypnotherapy’ Category


Terlibat Affair, Pusing & Bete Sesudah Memberikan Terapi?

Posted by: Awie  /  Tags: , , , , , , , , ,

Salah satu fenomena yang harus dicermati dalam sebuah sesi terapi adalah terjadinya transference dan counter-transference antara terapis dan klien, yaitu interaksi secara emosional seperti ketertarikan secara seksual, terjadinya transfer emosi & keyakinan negatif atau transfer masalah yang belum terselesaikan, baik dari pihak klien ke terapis maupun sebaliknya.

Transference dan Counter-Transference itu bisa berefek positif maupun negatif, oleh karena itu penting bagi seorang terapis untuk me-manage dan mengontrolnya secara positif, karena dalam praktek sehari hari seorang terapis mengalami interaksi sejenis ini berkali kali dengan setiap klien yang ditangani.

Dari perspektif Energy Psychology, Transference dan Counter-Transference itu terjadi sebagai akibat Terciptanya Hubungan Emosional & Pertukaran Energy melalui Rapport antara klien dan terapis dalam sebuah sesi terapi.

Akibatnya seorang terapis yang banyak menangani masalah klien akan banyak menerima proyeksi energi dan emosi negatif dari klien yang harus di-manage dengan baik karena sebuah transference & counter-transference yang tidak dimanage dengan baik biasanya akan berakibat pada terjadinya hubungan affair antara klien & terapis, munculnya rasa pusing, sakit kepala atau bahkan sampai memunculkan depresi pada terapis.

Bagaimana cara untuk mengatasinya?

Beberapa cara diantaranya adalah:

1. Selalu bersikap netral.

2. Berusaha untuk selalu “guiding” dan hindari “leading”.

3. Gunakan metoda Emotional Recycling yang menggunakan kombinasi antara S.H.I.N.E dan energy psychology.

Salam Turbo

Awie Suwandi

T.H.U.M.B

Trainer, Hypnotherapist, Unconscious MindZetter, Mental Coach & Bestseller Bookwriter .

Hati hati dengan asumsi anda…

Posted by: Awie  /  Tags: , , , , , ,

Adam stress berat karena sering bertengkar dengan pasangan hidupnya, dan dengan mengikuti nasehat dari teman temannya, akhirnya Adam memutuskan untuk konsultasi ke seorang hipnoterapis.

Kebetulan yang dicari adalah seorang hipnoterapis yang juga sangat berpengalaman dalam bidang konseling perkawinan.

Setelah melakukan induksi, sang hipnoterapis mulai melakukan regresi, chair therapy, parts therapy sambil memberikan nasehat dalam bentuk sugesti, membahas tentang arti hubungan suami istri, tentang sifat dan kecenderungan yang berbeda antara seorang pria dan wanita dan lain lain dengan berbekal pada pengalamannya sebagai seorang konseling perkawinan selama bertahun tahun.

Sesudah merasa cukup, dengan puas sang terapis membangunkan Adam untuk evaluasi sambil menggunakan Yes Set untuk menanamkan sugesti post hipnotik, mumpung Adam masih dalam kondisi yang sangat sugestif karena baru kembalii ke kesadaran normal, demikian pikir sang terapis.

Terapis: “Apakah anda sudah merasa lebih tenang sekarang?”
Adam: “Ya pak, tapi…”
Terapis: “Dan sekarang anda sudah bisa lebih memahami sifat dan kebutuhan wanita yang berbeda dengan pria?”
Adam: “Ya pak, tapi…”
Terapis: “Kalau begitu anda juga sudah bisa memaafkan dan menerima perilaku Eve istri anda apa adanya?”
Adam:  “Tapi pak…” protes Adam dengan nada sedikit jengkel.
Terapis:  “Tapi apa…???” tanya sang hipnoterapis dengan heran.
Adam: “Tapi………… saya ini GAY pak, dan pasangan hidup saya itu bernama Steve, bukan Eve!!!”
Terapis: “ …………….??!”

Teman teman, tadi sebelum anda membaca kalimat Adam yang terakhir, anda juga berasumsi pasangan hidup Adam adalah seorang wanita bukan?

Meskipun sedikit dilebih lebihkan, insiden mirip contoh diatas itu sudah sering terjadi di ruang terapi, terutama pada seorang pemula atau terapis yang kurang sabar ketika harus mendengarkan, sehingga tanpa disadari sudah menggunakan model dunia sendiri berikut dengan asumsi asumsinya pada klien, dan hal ini bisa berakibat pada hilangnya rapport dan cara penanganan kasus yang tidak tepat dan tidak efektif.

Terus bagaimana caranya menghindari insiden seperti diatas? Berikut ini ada beberap tips yang bisa anda lakukan:

1. Biasakan diri mendengarkan dengan sabar dan proaktif.

Kenapa kurang sabar untuk mendengarkan? Salah satu penyebabnya adalah karena perbedaan dalam kecepatan berbicara dan kecepatan mendengar pada setiap orang.

Dari hasil penelitian para ahli, kecepatan mendengar manusia itu rata rata 600 sampai 800 kata per menit, sedangkan kecepatan berbicara itu hanya 100-175 kata permenit, jadi ada perbedaan kecepatan yang sangat besar, sehingga ketika kita mendengarkan, kita akan cenderung menjadi bosan dan tidak sabar, dan akibatnya, kita akan membiarkan pikiran kita menerawang, atau menjadi tidak sabar untuk mendengarkan sampai habis, sehingga sebelum lawan bicara selesai dengan kalimatnya, kita suka menebak dan menarik kesimpulan tentang apa sedang yang dibicarakan.

Dan bagaimana caranya mendengarkan secara proaktif?

Mudah saja, anda bisa mengulangi di dalam hati kata demi kata apa yang diucapkan klien anda, dan karena anda mengulangi kata kata yang diucapkan, maka aktifitas ini akan mengurangi kecenderung pikiran anda untuk memikirkan hal lain sehingga anda bisa tetap fokus pada topik pembicaraan.

Kemudian, dengan mengulangi dalam hati kata kata klien anda, maka anda akan lebih mudah memahami apa yang diucapkan dan lebih mudah bagi anda untuk melihat dari perspektif klien.

Atau anda bisa memunculkan distorsi waktu dalam diri anda sendiri, sehingga anda bisa menjadi lebih sabar seandainya klien anda berbicara dalam tempo yang sangat lambat.

2. Pastikan bahasa yang anda gunakan senetral mungkin dan bebas dari asumsi anda sendiri.

Bagaimana caranya?

Selain membiasakan diri menggunakan meta model dari NLP, anda juga bisa menggunakan Clean Language,sebuah teknik bertanya yang dikembangkan oleh David Grove, seorang psikolog asal Selandia Baru.

Clean language itu terdiri dari 12 pertanyaan yang memungkinkan seorang terapis untuk melakukan eksplorasi model dunia dan metafora klien dengan bersih, memodelnya dan membantu klien untuk memunculkan perubahan perilaku berdasarkan pengalaman atau model dunia klien itu sendiri.

Menurut Grove, setiap kata yang digunakan oleh klien memberikan arti tersendiri bagi dirinya sendiri, sehingga ketika kata kata klien diganti atau ditambah dengan kata2 dari terapis (paraphrasing), seperti yang sering diamati Grove ketika mempelajari transcript dari Virginia Satir, Milton Erickson dan terapis lainnya, maka proses paraphrasing ini akan mengurangi rapport dan juga bisa menghilangkan proses pembelajaran yang seharusnya terjadi melalui pengalaman unik ini.

Terus…  apa yang membedakannya dengan NLP? Bedanya, kalau NLP itu fokus pada struktur dari sebuah pengalaman subyektif, Clean Language itu fokus pada arti simbolik dari content sebuah pengalaman subyektif, yaitu fokus dengan simbol dan metafora klien sehingga dalam lingkungan NLP metoda ini disebut juga dengan Symbolic NLP atau Symbolic Modelling.

Apa saja 12 pertanyaan yang “Bersih” dari Grove? Nantinya akan saya bahas di artikel mendatang.

Salam Turbo,
Awie Suwandi
The Mental Coach
0878 83 777 766

Ketika orang lain mengikuti pepatah yang mengatakan…
Perlakukan orang lain dengan cara seperti apa anda ingin diperlakukan…
Bukankah lebih efektif kalau pepatahnya anda ubah menjadi…
Perlakukan Klien Dengan Cara Seperti Apa Mereka Ingin Diperlakukan Oleh Anda…!!!

Kok masih bermasalah…???

Posted by: Awie  /  Tags: , , , , , , , , , , ,

Pada suatu hari, 2 sahabat karib Edvan dan Nubie sedang berjalan santai sepanjang sungai sambil menikmati suasana liburan disebuah taman. Kebetulan Edvan ini adalah seorang terapis dan Nubie adalah seorang polisi.

Tiba tiba mereka mendengar jeritan minta tolong, rupanya ada orang yang terjatuh kedalam sungai. Dengan sigap Nubie sang polisi terjun kesungai dan berenang menyelamatkan orang tersebut.

Sesudah menolong orang yang hampir mati tenggelam, mereka melanjutkan perjalanan, namum belum 200 meter mereka berjalan, kembali lagi mereka mendengar teriakan minta tolong, dan seperti tadi Nubie kembali terjun ke sungai dan membawanya ketepi.

Anehnya, belum lagi 300 meter mereka melanjutkan perjalanan, kembali ada orang yang kecebur kedalam sungai sehingga Nubie harus menolongnya lagi untuk yang ketiga kalinya… kemudian untuk yang keempat kali… kelima… keenam… tujuh… delapan… sembilan… sepuluh…

Sesudah menyelamatkan orang kesepuluh dari dalam air, dengan capeknya Nubie mengeluh kepada temannya, ”Aneh… kok hari ini banyak orang yang kecebur kedalam air… saat ini saya sendirian dan sudah kehabisan tenaga… kalau kondisi ini berulang terus, saya tidak yakin apakah masih bisa menolong mereka… saya sudah kehabisan akal… jadi menurut kamu… apa yang bisa kita lakukan sekarang?”

Edvan berpikir sebentar kemudain menjawab… “Mudah saja… kamu bisa berlari cepat kedepan… dan tangkap penjahat yang mendorong mereka jatuh kedalam sungai… serta membubarkan kerumunan orang orang yang datang menonton dan berdiri terlalu dekat ke pinggiran sungai”

Hal yang serupa juga sering terjadi dalam konteks terapi, terutama ketika seorang pemula memberikan terapi melalui menggunakan pendekatan direct suggestion dengan berbekal script yang banyak ditawarkan dibuku dan di internet.

Sama seperti Nubie sang polisi, yang di atasi hanyalah keluhan klien saja, dan selama penyebab masalah itu belum diselesaikan, biasanya masalah klien akan kembali muncul, atau muncul dalam bentuk lain.

Untuk mengatasi masalah ini maka orang mulai mengkombinasikan metoda psikoterapi lain dengan hypnosis, yaitu metoda psikoanalisa (age regression & hypnoanalysis), desensitisasi dengan pemecahan kesadaran/dissosiasi (informed child, role play, silent abreaction dll), Gestalt Therapy (Forgiveness dengan Chair Therapy dll) dan lain lain dengan tujuan mencari dan menyelesaikan masalah klien pada sumbernya, atau untuk mengatasi konflik internal (parts therapy, ego state therapy dll).

Umumnya dengan strategi diatas, masalah klien sudah tuntas, namun pada kasus tertentu klien masih belum bisa benar benar berperilaku dan menjalani hidupnya secara normal. Nah Lho… kok bisa???

Hal ini disebabkan ada satu aspek lagi yang sering luput dari perhatian, yaitu “meta problem” klien yang tidak ditangani, meta problem adalah masalah yang muncul sebagai dampak dari sebuah masalah, yang kadang memunculkan meta problem baru lagi.

Saya akan memberi contoh dari sebuah meta problem dengan sebuah ilustrasi yang disederhanakan, misalnya pada seorang pasien yang fobia air, rasa takutnya pada air memunculkan kebiasaan jarang mandi dalam diri klien, dan kebiasaan jarang mandi ini akan memunculkan masalah baru dalam hidup sehari hari dan dalam interaksinya dengan lingkungannya, seperti menarik diri dari pergaulan, suka marah2, atau menjadi kurang pede akibat bau badan, terkadang jika fobia airnya saja yang dihilangkan, dan meta problemnya tidak diatasi, masalah klien masih benar benar tuntas.

Contoh diatas adalah meta problem yang jelas dan mudah dikenali, sering sekali seorang terapis bisa berhadapan meta problem yang tidak jelas terlihat sehingga luput dari perhatinan sang terapis, yang bahkan tidak disadari oleh klien sendiri.

Supaya masalah yang diselesaikan benar benar tuntas, tentu saja dibutuhkan pendekatan secara holistik dan klien centered, bukan hanya fokus pada bagian tertentu dari permasalahan pasien. Termasuk didalamnya pengawasan atau kontrol dalam jangka waktu tertentu.

Anda juga bisa mengkombinasikan terapi anda dengan metoda REBT (Rational Emotive Behavior Therapy) untuk menemukan dan menyelesaikan meta problem klien yang ada, seperti yang saya lakukan dalam Turbo Hypnotherapy.

Jadi seandainya anda bertemu dengan rekan terapis yang mengatakan “Semua beres hanya dalam 1 sesi atau 15 menit saja…” mungkin ada manfaatnya anda balik bertanya “Yakin semua sudah tuntas…???”. Karena tujuan terapi adalah untuk membantu klien, bukan sebuah perlombaan atau untuk memecahkan rekor dunia…

Semoga bermanfaat…

Salam turbo
Awie Suwandi (0878 83 777 766)

Ketika kita belum berhasil…
Sering sekali kita diberi nasehat…
Berusahalah lebih keras lagi…
Padahal ada pilihan lain yang Patut Anda Pertimbangkan, yaitu…
“GUNAKAN  CARA  LAIN…!!!”